BANJARMASIN – Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Program Doktor menyelenggarakan Seminar Internasional bertajuk “Language and Culture Corpus” pada Sabtu, 6 Desember 2025. Kegiatan yang dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting ini bertujuan untuk mendorong pemahaman lintas budaya serta memperkuat kolaborasi internasional melalui penelitian berbasis korpus.
Acara dibuka secara resmi oleh Koordinator Program Studi, Prof. Dr. Jumadi, M.Pd., yang menekankan pentingnya pemahaman bahasa, sastra, dan budaya di era digital. Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa seminar ini menjadi wadah strategis untuk menganalisis pola bahasa dan budaya secara sistematis, sekaligus mempromosikan sensitivitas budaya dalam strategi komunikasi global.
Seminar ini menghadirkan tiga narasumber ahli dari berbagai negara yang memaparkan perspektif unik mengenai linguistik dan budaya.
Sesi pertama diisi oleh Prof. Dr. Wesam Mohamed Abdelkhalek Ibrahim dari Princess Nourah bint Abdulrahman University, Arab Saudi. Ia mempresentasikan inovasi dalam pengembangan perangkat lunak untuk linguistik korpus Arab. Prof. Wesam menyoroti kolaborasinya dalam menciptakan alat yang memudahkan analisis sintaksis Bahasa Arab Standar Modern bagi ahli bahasa yang tidak memiliki latar belakang pemrograman. Penelitiannya berfokus pada analisis mendalam terhadap kata kerja “kana” dan penciptaan sistem anotasi baru yang lebih akurat dan mudah dibaca.
Pembicara kedua, Prof. Dr. Mazura Mastura binti Muhammad dari Universiti Pendidikan Malaysia, membawa topik menarik mengenai analisis korpus dalam budaya populer. Ia memaparkan riset tentang distribusi frekuensi dan analisis kolokasi kata-kata tertentu dalam lirik lagu bahasa Inggris, khususnya genre R&B. Selain itu, Prof. Mazura juga berbagi pengalaman mengenai tantangan teknis dalam menyusun korpora dari dokumen gambar dan pentingnya analisis kualitatif pasca-pengolahan data kuantitatif.
Sesi terakhir menghadirkan Dr. Saharudin, S.S., M.A. dari Universitas Mataram, Indonesia, yang membahas kekayaan budaya lokal. Ia mengupas tuntas signifikansi budaya makanan tradisional dalam ritual suku Sasak di Lombok. Dr. Saharudin menjelaskan konsep “Nyeloka” sebagai strategi memahami istilah budaya yang sulit diterjemahkan, serta bagaimana makanan dalam ritual tersebut melambangkan integrasi nilai-nilai spiritual Islam dengan adat istiadat setempat.
Kegiatan ini diakhiri dengan diskusi interaktif mengenai tantangan metodologi penelitian korpus, khususnya untuk bahasa non-Inggris seperti bahasa Melayu, Indonesia, dan Banjar. Para peserta sepakat mengenai perlunya proyek kolaboratif untuk membangun korpora yang komprehensif guna mendukung pelestarian dan analisis bahasa di masa depan.




